Senin, 10 Oktober 2016

Catatan Lama
"Jika ingin belajar Agama, maka belum cukup dengan hanya belajar Alquran, sebab contohnya ada pada Hadis dan lengkapi pengaplikasiannya dengan belajar pun mengetahui Sejarah"
_Dr. Harjani Hefni, Lc., M. A

Rabu, 02 Maret 2016

Reminder about My Prophet Rasulullah SAW


Rabu, 22 Pebruari 2016
Just Reminder for Me and whoever reads it
Aku terus mengubah posisi tidurku, ke arah kanan-kiri, menghadap depan, sampai berposisi seperti bayi yang seperti ingin merangkak. Hufh, entah mengapa kantukku seakan menyesat di suatu tempat. Padahal do’a tidur sudah kupanjatkan setengah jam yang lalu, pun beragam ‘ritual’ jelang tidur telah kulakukan. Parahnya, hingga pukul 00.00 dini hari, mataku pun tak kunjung terkatup. Mungkin ia belum lelah, sebab siang tadi aku memang tidur lumayan lama. Pikirku memastikan. Tapi, hingga jam digital di handphone-ku menunjukkan pukul 00.28 mataku benar-benar masih terasa segar. Hmm, sepertinya harus ada yang kulakukan untuk membuatnya terlelah, setidaknya membaca 2 atau 3 halaman dari suatu bukulah. Ideku yang membatin. Ya, ritual pamungkas yang kulakukan jika kantuk tak kunjung datang menghipnotisku untuk tertidur.
Finally, aku mulai melirik meja belajarku, dan menarik kursi yang terletak di depannya untuk kududuki. Awalnya aku hanya melihat jadwal siaran radio baru untuk bulan Maret saja, namun setelahnya, tatapanku tercuri oleh sebuah benda yang baru saja kurapihkan sebelum aku memulai belajar tadi. Ya, benda tersebut berbaris rapih berdampingan dengan “teman-temannya.” Benda bewarna merah, bertuliskan “Ilmu Hadis” pada cover yang terpampang di depannya seperti berteriak manja meminta untuk dibaca.
Baiklah, tanganku mulai meraih buku karangan Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag. lalu mulai menjelajahi lembar demi lembar yang terdapat di dalamnya hingga tatapanku terhenti pada lembaran ke-56.
“Salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi bagi mereka yang ingin menafirkan Alquran ialah harus tahu dan mengerti hadis dan ilmu hadis serta sejarah perjalanan kehidupan Nabi Saw.”
Wah, rasanya seluruh jempolku ingin mengacungkan dirinya simbolik setuju atas statement di atas. Ya, aku memang mengambil jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir, tapi aku tidak sepehunya yakin jika aku mampu menjadi seorang mufassirah—sebutan dalam bahasa Arab bagi penafsir hadis perempuan. Sebab, sepertinya banyak sekali syarat yang mesti dipenuhi. Bukannya pesimis, namun kembali lagi pada niat awalku ketika memilih jurusan eksklusif ini. Alquran is key of Te World. Aku percaya bahwa dengan seseorang mempelajari ilmu Alquran itu sama saja seseorang tersebut telah mempelajari beragam ilmu. Bukan sombong, namun Alquran memanglah mukjizat Rasulullah Saw hingga akhir zaman, yang tak dapat diragukan lagi kebenarannya.
Ehh, tapi kali ini tanganku menari manis di atas keyboard laptop bukan untuk membahas pasal Alquran Key of The World, itu ada pembahasan khususnya. Hehe… aku hanya ingin menyampaikan bahwa benarlah pernyataan di atas, bahwa Ilmu Hadis merupakan ilmu penting bagi para mufassir/ah, tapi itu juga penting bagi mufassir non-formal. Ya, maksudku, tanpa disadari kita telah menjadi mufassir/mufassirah bagi diri kita sendiri. Sebab, tak jarang bukan kita mentafsirkan sesuatu baik itu ketika membaca Alquran atau sekedar membaca kejadian yang terjadi dalam hidup ini? Terlebih, yang dianjurkan adalah mengetahui sekaligus mempelajari hadis Nabi Saw. manusia dengan kesempurnaan akhlaknya, kemuliaan nasabnya dan keelokan perangainya. Toh, tidak ada ruginya sama sekali, bukan untuk berkenalan dengannya secara eksklusif dengan mempelajari beberapa hal di atas? Bahkan termaktub pula dalam sebuah hadis yang sudah familiar, riwayat Hakim "Wahai sekalian manusia, Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu sekalian apa-apa yang jika kamu sekalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. Barakallahu fiikum semoga aku, kau dan semuanya mampu menjadi umatnya yang dapat meneledani hadisnya.
Rabu, 22 Pebruari 2016
Just Reminder for Me and whoever reads it
Aku terus mengubah posisi tidurku, ke arah kanan-kiri, menghadap depan, sampai berposisi seperti bayi yang seperti ingin merangkak. Hufh, entah mengapa kantukku seakan menyesat di suatu tempat. Padahal do’a tidur sudah kupanjatkan setengah jam yang lalu, pun beragam ‘ritual’ jelang tidur telah kulakukan. Parahnya, hingga pukul 00.00 dini hari, mataku pun tak kunjung terkatup. Mungkin ia belum lelah, sebab siang tadi aku memang tidur lumayan lama. Pikirku memastikan. Tapi, hingga jam digital di handphone-ku menunjukkan pukul 00.28 mataku benar-benar masih terasa segar. Hmm, sepertinya harus ada yang kulakukan untuk membuatnya terlelah, setidaknya membaca 2 atau 3 halaman dari suatu bukulah. Ideku yang membatin. Ya, ritual pamungkas yang kulakukan jika kantuk tak kunjung datang menghipnotisku untuk tertidur.
Finally, aku mulai melirik meja belajarku, dan menarik kursi yang terletak di depannya untuk kududuki. Awalnya aku hanya melihat jadwal siaran radio baru untuk bulan Maret saja, namun setelahnya, tatapanku tercuri oleh sebuah benda yang baru saja kurapihkan sebelum aku memulai belajar tadi. Ya, benda tersebut berbaris rapih berdampingan dengan “teman-temannya.” Benda bewarna merah, bertuliskan “Ilmu Hadis” pada cover yang terpampang di depannya seperti berteriak manja meminta untuk dibaca.
Baiklah, tanganku mulai meraih buku karangan Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag. lalu mulai menjelajahi lembar demi lembar yang terdapat di dalamnya hingga tatapanku terhenti pada lembaran ke-56.
“Salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi bagi mereka yang ingin menafirkan Alquran ialah harus tahu dan mengerti hadis dan ilmu hadis serta sejarah perjalanan kehidupan Nabi Saw.”
Wah, rasanya seluruh jempolku ingin mengacungkan dirinya simbolik setuju atas statement di atas. Ya, aku memang mengambil jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir, tapi aku tidak sepehunya yakin jika aku mampu menjadi seorang mufassirah—sebutan dalam bahasa Arab bagi penafsir hadis perempuan. Sebab, sepertinya banyak sekali syarat yang mesti dipenuhi. Bukannya pesimis, namun kembali lagi pada niat awalku ketika memilih jurusan eksklusif ini. Alquran is key of Te World. Aku percaya bahwa dengan seseorang mempelajari ilmu Alquran itu sama saja seseorang tersebut telah mempelajari beragam ilmu. Bukan sombong, namun Alquran memanglah mukjizat Rasulullah Saw hingga akhir zaman, yang tak dapat diragukan lagi kebenarannya.
Ehh, tapi kali ini tanganku menari manis di atas keyboard laptop bukan untuk membahas pasal Alquran Key of The World, itu ada pembahasan khususnya. Hehe… aku hanya ingin menyampaikan bahwa benarlah pernyataan di atas, bahwa Ilmu Hadis merupakan ilmu penting bagi para mufassir/ah, tapi itu juga penting bagi mufassir non-formal. Ya, maksudku, tanpa disadari kita telah menjadi mufassir/mufassirah bagi diri kita sendiri. Sebab, tak jarang bukan kita mentafsirkan sesuatu baik itu ketika membaca Alquran atau sekedar membaca kejadian yang terjadi dalam hidup ini? Terlebih, yang dianjurkan adalah mengetahui sekaligus mempelajari hadis Nabi Saw. manusia dengan kesempurnaan akhlaknya, kemuliaan nasabnya dan keelokan perangainya. Toh, tidak ada ruginya sama sekali, bukan untuk berkenalan dengannya secara eksklusif dengan mempelajari beberapa hal di atas? Bahkan termaktub pula dalam sebuah hadis yang sudah familiar, riwayat Hakim "Wahai sekalian manusia, Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu sekalian apa-apa yang jika kamu sekalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. Barakallahu fiikum semoga aku, kau dan semuanya mampu menjadi umatnya yang dapat meneledani hadisnya.

Senin, 01 Februari 2016


ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#

Siti Fatimah                                                                           Harjani Hefni Polah, Lc, M.A.
1143410019                                                                            Sejarah Dakwah
Ilmu Alquran & Tafsir


Berangkat dari sebuah dalil yang termaktub dalam Alquran[1] yang menyinggung tentang tujuan Allah SWT. menciptakan manusia ke bumi sebagai khalifah atau bisa juga dikatakan seorang pemimpin. Yang di mana peran seorang pemimpin ialah sesorang yang mampu menjadi panutan pun memberikan contoh yang baik bagi yang dipimpin dan sekitarnya. Maka, dengan pandangan demikian, penulis pun merasa bahwa setiap manusia, termasuklah penulis maupun pembaca, masing-masing telah diberikan tanggung jawab dari Allah untuk menunjukkan yang haq dan bathil. Layaknya seorang Da’i yang berorientasi dalam pengajaran nilai kebaikan. Maka, sudah seyogyanya kita pun melakukan hal (nilai kebaikan) tersebut.
Selain sebagai tugas pelengkap mata kuliah Sejarah Dakwah, tulisan ini diharapkan mampu memberikan kebermanfaatan bagi penulis maupun pembacanya, khususnya yang bergerak di bidang Dakwah. sekaligus sebagai salah satu tolak ukur untuk membuat strategi dakwah di sebuah daerah.

Teluk Batang
Sebelumnya, penulis ingin mengajak pembaca untuk lebih mengenal sedikit banyak tentang tempat yang dijadikan objek penelitian penulis, yakni di kampung Teluk Batang. Berikut paparan singkatnya :

A.    Gambaran Kampung Teluk Batang
Teluk Batang, sebuah kampung yang memiliki luas wilayah sekitar 4.540 Ha, atau 18 Km2 pun terdiri dari 5 Dusun, dan 20 RT. Yaitu, Dusun Muara Karya yang terletak di Pelabuhan, Dusun Panca Karya yang terletak di Simpang Empat, Dusun Karya Makmur yang terletak di Teluk Nipah, Dusun Karya Baru yang teretak di Sukamaju, dan Dusun Karya Maju yang terletak di Sukamaju pula.
Selain itu, Teluk Batang juga dikenal sebagai kampung dukun. Karena jika diihat dari sisi kepercayaan pada dukun-dukun kampung atau pun semacamnya, maka, hingga sekarang pula, masyarakat Teluk Batang pun masih memercayai dan masih ikut serta berpartisipasi dalam pelaksanaan ritus suci yang ada di kampung tersebut.
Maka, menurut pengamatan penulis, yang disertai beberapa sumber, bahwa pelaksanaan ritus suci memang masih berlangsung hingga saat ini. Mulai dari tradisi kerenah, hingga untuk pengobatan tradisional.
Sementara itu, kebanyakan masyarakat Teluk Batang beragama Islam, sedang minoritasnya beragama Kristen, dan Konghucu. Masing-masing memiliki pengaruhnya tersendiri.
Adapun jika ditinjau dari segi ekonomi, mayoritas mata pencaharian yang masih berlangsung dan masih dijalani oleh masyarakat Teluk Batang, antara lain ialah: nelayan, buruh tani, guru, atau pun pegawai negeri. Demikianlah gambaran desa Teluk Batang secara umumnya, selanjutnya, penulis akan memaparkan ruang lingkup masalah yang akan dibahas dari beberapa segi :
1.      Keagamaan di Kampung Teluk Batang
2.      Perekonomian di Kampung Teluk Batang
3.      Pendidikan di Kampung Teluk Batang
4.      Kesosialan di di Kampung Teluk Batang
Berikut paparan singkatnya :
1.      Keagamaan di Kampung Teluk Batang
Dewasa ini, menurut pemantauan penulis, dalam masyarakat Teluk Batang, masih terdapat ritus suci yang bertentangan dengan kepercayaan atau sebut saja keagamaan. Karena, pelaksanaan yang biasa dilangsungkan di kampung tersebut, tak jarang masih ada yang melakukan upacara-upacara pemanggilan roh, menggunakan dukun kampung. Namun anehnya, kegiatan yang biasa disebut kerenah—upacara—tersebut, masih diakultuarasikan dengan keagamaan. Karena dilihat dari segi bacaan, mereka masih memanjatkan do’a dan pujian kepada Rasulullah Saw. jadi, di sinilah yang penulis lihat merupakan kegiatan musyrik setengah-setengah. Kemudian, dilihat dari segi berpakaian, yang merupakan suatu hal yang sangat familiar sekali, yakni dalam memakai jilbab atau kerudung. Bisa dikatakan, memang tidak seluruhnya, namun memakai jilbab atau menutup aurat kini bukan lagi menjadi sebuah kewajiban, melainkan hanya sebuah trend atau sekedar untuk bergaya saja. Jadi, esensi dari menutup aurat tersebut seakan tidak sampai kepada si pengguna.
Namun begitu, nilai positif yang masih berlangsung di kampung tersebut, yakni masih diadakannya kegiatan pengajian mingguan yang biasanya diselenggarakn oleh para kaum wanita dan mayoritasnya ibu-ibu. Begitupun kegiatan tahlilan yang masih menjadi rutinitas mingguan pula oleh kaum adam. Kemudian, masih diadakannya lomba-lomba yang berbau keagamaan pada hari-hari besar Islam. Antusiasme masyarakat dalam menyambut bulan Ramadhan pun baik. Sebab, bulan Ramadhan dijadikan ajang untuk unjuk kompetisi, yakni Fastabiqul Khairat, sebab dari masing-masing pihak sekolah mestilah melaksanakan kegiatan Pesantren Kilat dalam mengisi agenda tiap bulan Ramadhan. Namun, nilai negatifnya yakni, pada bulan Ramadhan masih ada pula masyarakat Muslim yang tidak melaksanakan kewajiban berpuasa. Dalam hal ini, penulis melihat adanya kesinambungan dari segi ekonomi maupun sosial yang ikut mempengaruhi. Di mana kebanyakan dari mereka yang tidak berpuasa, beralasan bahwa mereka tidak sanggup berpuasa sebab tuntutan kerjaan yang sangat berat dan tidak mungkin jika ditinggalkan, sebab tuntutan ekonomi yang mengharuskan pula.
2.      Perekonomian di Kampung Teluk Batang
Dalam bidang perekonomian, masyarakat cenderung memilih menjadi petani sebagai profesi atau mata pencahariannya. Sebab, melihat keterjangkauan tempat yang mendukung serta memudahkan masyarakat untuk menanam. Kebanyakan dari masyarakat  Adapun mata pencaharian lainnya, yakni menjadi nelayan, karena dekat dengan sungai. Ketidakseimbangan dalam hal ekonomi juga yang membuat timbulnya sebuah masalah. Adapula yang tergolong memiliki pendapatan yang tinggi, yakni dari mereka yang memiliki usaha mandiri, seperti pedagang, baik itu pangan, sandang dan pangan.
3.      Pendidikan
Dari segi pendidikan, kebanyakan masyarakat asli Teluk Batang, menikah setelah lulus jenjang menengah atas. Sebab, pandangan tidak pentingnya pendidikan, atau hanya membuang-buang uang dan waktu juga seperti sudah menjalar di mindset tiap insannya. Terlebih, bagi kaum hawa yang dianggap setinggi apapun pendidikan nantinya akan kembali ke dapur. Maka, sangat sedikit sarjana yang berasal dari kampung tersebut. Kalaupun ada, mungkin hanya mereka yang berasal dari kalangan atas. Yang berasal dari ruang lingkup keluarga terhormat, dan mereka yang bukan asli berasal dari kampung tersebut.
4.      Kesosialan
Melihat dari kaca mata kesosialan, pastinya di setiap kampung memiliki masalah sosial. Apalagi, jika dalam segi pendidikan sudah minim maka moral yang rendah. Sebab, keduanya sangatlah berkesinambungan. Mindset masyarakat dalam memandang pendidikan formal adalah suatu yang sia-sia dan hanya membuang-buang waktu, dan uang, sehingga tidak sedikit dari mereka yang menyuruh anaknya untuk berhenti sekolah dan lekas menikah. Selain untuk menghindari fitnah juga untuk menghemat biaya atau tanggungan hidup. Terlebih kebanyakan masyarakat awam sering menganggap setinggi apapun jenjang pendidikan seorang wanita, pastilah tidak akan jauh urusannya dengan dapur. Maka, mereka lebih memilih.
Kebaikannya, masih senang mengadakan selamatan/beruahan. Masih suka bergotong-royong ketika terjadi musibah di kampung tersebut.
B.     Materi Dakwah
Materi yang saya orientasikan adalah sebagai berikut :
a.       Tauhid
b.      Akhlak
c.       Pentingnya silahturahmi
d.      Tawakkal
e.       Mengimani rukun Iman dan Islam
C.    Metode Dakwah
Melihat kondisi masyarakat di Teluk Batang yang tergolong manusia (followers) ikut-ikutan, maka metode yang terbaik menurut penulis yang harus diterapkan ialah dengan cara Uswatun Hasanah. Seorang Da’i berperan sebagai sebagai trendsetter dalam hal positif. Dan untuk memancing si mad’u maka da’i harus terlihat percaya diri, dan enjoy serta menarik. Sehingga si mad’u tertarik untuk mengikutinya. Dengan tulisan, di mana tulisan-tulisan lebih dijuruskan pada segi religi. Baik itu artikel, fiksi atau non-fiksi dan jenis tulisan lainnya. Fastabiqul khoirot, di mana dengan seringnya diadakan perlombaan-perlombaan merupakan cara untuk memancing seseorang untuk unjuk kompetensi dalam hal positif (lebih tepatnya agama).
D.    Sarana Dakwah
1.      Masjid, sebagai tempat ibadah.
2.      Perpustakaan, untuk menyimpan buku maupun kitab-kitab tafsir Alquran dan Hadis
3.      Gedung Serba Guna, sebagai gedung untuk pertemuan akbar, atau kegiatan dakwah lainnya.
4.      Iklan/Spanduk berisikan nasihat, di beberapa pinggiran jalan
5.      Radio Islam
E.     Kajian-kajian Dakwah di Kampung
1.      Pesantren Kilat tiap bulan Ramadhan
2.      Pengajian mingguan
3.      Kajian tiap hari raya besar
Dari beberapa kajian di atas, sudah ternilai baik bagi penulis. Jadi, jika Allah menghendaki, penulis akan mempertahankan nilai positif tersebut, serta mengembangkan dengan adanya Remaja Masjid
Dilihat dari paparan penulis, memang sedikit terlihat bahwa penulis meng-islamisasikan daerah tersebut. Namun, penulis yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan bagi hamba-Nya yang ingin berbuat kebaikan di jalan-Nya, terlebih di bidang agama.

Kesimpulan
Dari keseluruhan penjabaran masalah yang terjadi di kampung Teluk Batang, maka kesimpulan dan masalah terbesarnya adalah mindset dari masyarakat itu sendiri. Pandangan masyarakat yang cenderung masih kuno dan enggan menerima informasi baru, karena merasa tidak ingin meninggalkan kebudayaan dan adat-istiadat yang jauh-jauh waktu sudah berlangsung.
Melihat hal tersebutlah penulis membenarkan adanya kebenaran dari Sunatulah pada permasalahan di kampung Teluk Batang dengan permasalahan pada zaman Rasulullah. Oleh sebab itu, untuk materi selanjutnyan penulis akan menjelaskan ringkasan pengertian dari sunatulah.

F.     Sunnatullah
Mengenal lebih dalam definisi tentang sunatulah, yang bersifat valid, konstan, komperhensif, dan tidak berubah (tsabat). Sebagaimana firman Allah SWT. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.(QS. Fathir: 43).
Sebab dalam ajaran Islam, Dzat Yang menciptakan, mengatur, dan memelihara alamlah yang membuat aturannya. Urgensi mempelajari sunatulah dalam sejarah dakwah, yakni karena dia tidak pernah berubah dan akan terus diputar oleh Allah manakala variabel-variabelnya sudah memadai untuk diputar ulang.   
Allahlah yang memutar sejarah, sehingga bisa kembali pada saat orang-orang pada zaman tertentu melakukan perbuatan yang sama atau mendekati perbuatan yang dilakukan oleh orang yang tersebut dalam sejarah.
Dari beberapa gambaran tentang sunatulah dalam kitabulah dan Hadis Rasul kita memahami hakikat sejarah, dan mengetahui faktor-faktor perkembangan, keamanan, kemapanan, dan kemajuan di satu sisi, dan faktor-faktor kehancuran, ketakutan, kejatuhan, dan keterbelakangan. Yang mana sunnatullah juga berhubungan erat dengan amr (perintah) dan nahi (larangan), dan ada balasan dari sunnah robbaniyah bagi seseorang tersebut, sesuai dengan perbuatannya.
Karena adanya sunnatullah yang konstan inilah mempelajari sejarah dakwah menjadi keniscayaan bagi para da’i. Adapun sunnatullah dalam dakwah, yakni :
1.      Sunnah ibtila’ atau cobaan sarana untuk menyeleksi dan membersihkan hati orang-orang yang akan dijadikan hawari atau kader barisan terdepan. Konsekuensi logis dari terjadinya sunnah ibtila’ adalah munculnya sunnah tamhish.
2.      Sunnah Tamhish atau seleksi ini bertujuan untuk mengetahui kualitas orang yang ada di dalam barisan, siapa yang hanya mengaku-ngaku, dan siapa yang sebenarnya pejuang. Hasil dari sunnah tamhish adalah munculnya sunnah tamkin.
3.      Sunnah Tamkin atau kemapanan, Allah akan mengukuhkan posisi orang-orang mukmin di muka bumi setelah mereka membuktikan kelayakan mereka untuk menang.
Jadi, ketiga sunnah ini sangat berkaitan serta berkesinambungan. Jadi, kata kunci dari sunnah ini adalah : Tidak ada kemapanan tanpa ada seleksi, dan tidak terjadi seleksi kalau tidak ada cobaan. Apabila terlaksana di pangkalnya maka akan terealisasi di ujungnya. Maka, Nabi Muhammad adalah contoh yang paling indah untuk memahami sunnah perubahan. Amanah dakwah selain menyampaikan adalah perubahan maka beliau membagi dakwah dalam fase-fase bahkan dirinci dalam langkah-langkah implementasinya. Adapula sunnah pergantian  atau pergiliran di antara manusia, dari masa sulit ke masa mudah, atau sebaliknya.
Sunnah pergiliran ini dibuka kesempatan oleh Allah beriringan dengan kesungguhan orang untuk melaksanakan sunnah taghyir dalam nafs (jiwa) mereka. Terdapat pula rahasia besar, hubungan antara sunnah pergiliran di antara manusia, bangsa, dan masyarakat dengan perubahan nafs pada suatu umat. Di mana jika kita mampu mengelola perubahan dengan baik, maka sunnah kemenangan adalah sunnah berikutnya yang akan kita jemput.
Alquran pun berbicara berkenaan dengan faktor-faktor kemenangan, yakni Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.[2]
Tetapi apabila syarat-syarat kemenangan itu terlambat direalisasikan maka kemenangan pun tidak akan diraih, atau bahkan kekalahanlah yang didapat. Sebab kemenangan tidak mungkin dicapai tanpa melaksanakan sebab-sebab yang membawa kemenangan, apakah perkara itu berhubungan dengan orang-orang mukmin ataupun dengan orang kafir.
Sunnatullah yang juga wajib diperhatikan oleh para da’I adalah sunah al-I’dad (persiapan). Sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Anfal : 60 “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).
Persiapan sebaiknya mencakup seluruh aspek, seperti persiapan ilmu, pemahaman agama, dan kejelasan pandangan dalam beragama, persiapan tarbawi dan perilaku, persiapan harta, persiapan media, dan persiapan fisik.
Sunnah lain yang juga penting dipahami adalah sunnah tadafu’ (pertarungan), yaitu pertarungn laten antara haq dan bathil. Sunnah ini terkait dengan sunnah I’tidad, dan telah berlangsung secara empiris dalam sejarah panjang umat manusia dan akan terus berlangsung dalam pentas kehidupan hingga hari kiamat.
Tha-ifah Manshurah (kelompok yang dimenangkan) yang dihadirkan Allah SWT. ini mengantongi seluruh penyebab kemenangan, baik maknawiyah maupun materi, yaitu berupa ilmu yang benar, perilaku yang lurus, melaksanakan  program langkah demi langkah yang dijadikan Allah sebagai sarana untuk sampai kepada hasil yang diinginkanjika hanya sekedar iman dsn komitmen dengan akidah ahlussunnh waljamaah—tanpa berusaha untuk melakukan pekerjaan yang menjadi penyebab kemenangan, tanpa memerhatikan faktor-faktor materi, dan tidak komitmen dengan sunnah kauniyah yang mutlak—tidak akan menjamin lahirnya kemenangan di muka bumi sebagaimana yang dijanjikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang jujur.

G.    Rencana Hidup dari Umur 18-40 tahun
Sebelum seorang Da’i tersebut terjun ke “lapangan” sekaligus menyampaikan dakwahnya terhadap mad’unya, maka alangkah baiknya jika segala sesuatunya direncanakan. Maka penulis juga akan memaparkan  rencana-rencana/target yang ingin dicapai oleh penulis mulai dari umur 18 tahun hingga umur 40 tahun.
18th years :
1.      Penyiar yang baik, ikhtiarnya adalah terus berlatih berbicara, belajar untuk menambah wawasan.
2.      Menjadi guru yang baik dalam pelajaran apapun, ikhtiarnya adalah berusaha untuk bisa memahami segala sesuatu, dengan selalu memetik ibrah positif untuk bisa dipelajari, lalu diajarkan dengan siapa saja.
3.      Hafal juzz 30. Mengetahui artinya, agar mudah untuk dipahami.
4.      Lancar berbahasa Inggris di mana pun, kapan pun dan pada siapa pun. Dengan berlatih listening, memiliki partner berbahasa dan sering membaca hal yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Jadi bisa dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari.
5.      Bisa membaca Kitab Kuning. Mempelajari Nahwu, sebagai landasan awal.
6.      Bisa membaca Qira’ah Sab’ah. Latihan minimal sebulan sekali
7.      Sedekah setiap bulannya. Dengan menyisihkan uang.
19th  years :
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Umroh bersama keluarga.
3.      Hafal juzz 29 & 28. Memiliki buku target, mendengarkan melalui audio.
4.      Pergi ke Pare. Menabung.
5.      Pergi ke Singapura. Menabung.
6.      Best Motivator. Belajar, membaca, latihan berbicara, latihan memahami karakter orang. Intinya, selalu belajar.
7.      Mengajukan proposal skripsi. Konsultasi dengan dosen PA
8.      Menerbitkan  5 buku motivasi. Belajar, sering membaca, menulis, dan hal positif lainnya.
9.      Memiliki bisnis. Membangun relasi dengan teman-teman yang bergerak di bidang bisnis.
10.  Sedekah setiap harinya.
20th years :
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Keep Best motivator
3.      Keep Best Announcer
4.      Keep Best Teacher in every subject
5.      Wisuda
6.      Menerbitkan 10 buku motivasi Belajar, sering membaca, menulis, dan hal positif lainnya.
7.      Menambah hafalan juzz 27, 26 & 25
8.      Married with  My Best Husband (Seorang Hafiz)
9.      Daftar Haji
21st years :
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Menambah hafalan juzz 24, 23 & 22
3.      Keep Best motivator
4.      Memiliki acara talk show di stasiun Televisi
5.      Keep Best Entrepreneur
6.      Go to Umroh with My Beloved Big Family
7.      Bisa menanam bunga dan memiliki kebun bunga
8.      Married with My Best Husband (Seorang Hafiz)
9.      Be the Best Mother n Wife for My Family
22nd years :
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Menambah hafalan juzz 21, 20 & 19
3.      Memiliki buah hati
4.      Memiliki Istana Qalbu (Tempat pembangkit kreatifitas kaum-kaum cacat dan yatim piatu)
23rd years :
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Menambah hafalan juzz 18, 17, 16, 15 & 14
3.      Memiliki Restaurant Masakan Khas di Indonesia, belajar memasak, membaca resep.
4.      Memiliki English Privat di Indonesia. Mengajak kawan-kawan yang jago berbahasa untuk ikut andil dalam program tersebut.
5.      Perpustakaan mini khusus Kitab Tafsir & Hadis
24th years :
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Menambah hafalan juzz 13, 12, 11, 10, 9 & 8
3.      Memiliki 10 cabang Restaurant Masakan Khas di Indonesia
4.      Memiliki cabang Rumah Tahfidz
5.      Memiliki 10 cabang English Privat. Membangun relasi di berbagai daerah dengan menghubungi teman-teman.
25th years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Menambah hafalan juzz 7, 6, 5, 4 & 3
3.      Memiliki cabang Restaurant Masakan Khas di luar Negeri
4.      Memiliki cabang Restaurant Masakan Khas di seluruh Indonesia
5.      Go to Haji with My Beloved Family
26th years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Menambah hafalan juzz 2 & 1
3.      Memiliki buah hati yang ke-2
4.      Keep all of my Plan
5.      Memiliki Supermarket
6.      Mengembangkan bisnis
7.      Mengembangkan usaha TalkShow
8.      Muroja’ah
9.      Membangun rumah untuk orang tua
27th years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Around the Indonesia Country with My Big Family
3.      Go to Umrah
4.      Muroja’ah
28th years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Memiliki perpustakaan Umum
3.      Memiliki perpustakaan khusus Kitab
4.      Muroja’ah
5.      Sedekah every days
29th years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Muroja’ah
3.      Sedekah every days
30th years
4.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
1.      Menerbitkan Kitab Tafsir
2.      Menerbitkan buku motivasi tambahan
3.      Muroja’ah
4.      Sedekah every days
31st years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Mendirikan pondok pesantren
3.      Muroja’ah
4.      Sedekah every days
32nd years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Mengembangkan pondok pesantren
3.      Muroja’ah
4.      Sedekah every days
33rd years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Muroja’ah
3.      Sedekah every days
33rd years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Muroja’ah
3.      Sedekah every days
33rd years
1.       Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Muroja’ah
3.      Sedekah every days
34th years
H.    Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
I.       Mengikuti kajian-kajian Islam.
35th years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Muroja’ah
3.      Sedekah every days
4.      Berkeliling Benua Asia, ke tempat Sejarah
5.      Bermuhasabah
36th years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Muroja’ah
3.      Sedekah every days
4.      Berkeliling Benua Afrika, ke tempat Sejarah
5.      Bermuhasabah
37th years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Muroja’ah
3.      Sedekah every days
4.      Berkeliling Benua Amerika
5.      Bermuhasabah
38th years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Muroja’ah
3.      Sedekah every days
4.      Bisa menghajikan orang lain
5.      Berkeliling Benua Australia
6.      Bermuhasabah
39th years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Muroja’ah
3.      Sedekah every days
4.      Bermuhasabah
40th years
1.      Keep all of my Plan (ISTIQOMAH)
2.      Muroja’ah
3.      Sedekah every days
4.      Bermuhasabah
Demikianlah, rencana-rencana yang dapat saya jelaskan. Insya Allah saya akan berupaya semaksimal mungkin. Selebihnya saya serahkan kepada Allah SWT sebagai sutradara terbaik.

Kirim ke email : harjanif





[1] QS. Al-Baqarah : 35
[2] QS. Al-Anfal : 45-46