Rabu,
22 Pebruari 2016
Just
Reminder for Me and whoever reads it
Aku
terus mengubah posisi tidurku, ke arah kanan-kiri, menghadap depan, sampai
berposisi seperti bayi yang seperti ingin merangkak. Hufh, entah mengapa
kantukku seakan menyesat di suatu tempat. Padahal do’a tidur sudah kupanjatkan
setengah jam yang lalu, pun beragam ‘ritual’ jelang tidur telah kulakukan.
Parahnya, hingga pukul 00.00 dini hari, mataku pun tak kunjung terkatup. Mungkin
ia belum lelah, sebab siang tadi aku memang tidur lumayan lama. Pikirku
memastikan. Tapi, hingga jam digital di handphone-ku menunjukkan pukul
00.28 mataku benar-benar masih terasa segar. Hmm, sepertinya harus ada yang
kulakukan untuk membuatnya terlelah, setidaknya membaca 2 atau 3 halaman dari
suatu bukulah. Ideku yang membatin. Ya, ritual pamungkas yang kulakukan
jika kantuk tak kunjung datang menghipnotisku untuk tertidur.
Finally,
aku mulai melirik meja belajarku, dan menarik kursi yang terletak di depannya
untuk kududuki. Awalnya aku hanya melihat jadwal siaran radio baru untuk bulan
Maret saja, namun setelahnya, tatapanku tercuri oleh sebuah benda yang baru
saja kurapihkan sebelum aku memulai belajar tadi. Ya, benda tersebut berbaris
rapih berdampingan dengan “teman-temannya.” Benda bewarna merah, bertuliskan
“Ilmu Hadis” pada cover yang terpampang di depannya seperti berteriak manja
meminta untuk dibaca.
Baiklah,
tanganku mulai meraih buku karangan Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag. lalu mulai
menjelajahi lembar demi lembar yang terdapat di dalamnya hingga tatapanku
terhenti pada lembaran ke-56.
“Salah
satu syarat mutlak yang harus dipenuhi bagi mereka yang ingin menafirkan
Alquran ialah harus tahu dan mengerti hadis dan ilmu hadis serta sejarah
perjalanan kehidupan Nabi Saw.”
Wah,
rasanya seluruh jempolku ingin mengacungkan dirinya simbolik setuju atas statement
di atas. Ya, aku memang mengambil jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir, tapi aku
tidak sepehunya yakin jika aku mampu menjadi seorang mufassirah—sebutan
dalam bahasa Arab bagi penafsir hadis perempuan. Sebab, sepertinya banyak
sekali syarat yang mesti dipenuhi. Bukannya pesimis, namun kembali lagi pada
niat awalku ketika memilih jurusan eksklusif ini. Alquran is key of Te
World. Aku percaya bahwa dengan seseorang mempelajari ilmu Alquran itu sama
saja seseorang tersebut telah mempelajari beragam ilmu. Bukan sombong, namun
Alquran memanglah mukjizat Rasulullah Saw hingga akhir zaman, yang tak dapat
diragukan lagi kebenarannya.
Ehh,
tapi kali ini tanganku menari manis di atas keyboard laptop bukan untuk membahas
pasal Alquran Key of The World, itu ada pembahasan khususnya. Hehe… aku
hanya ingin menyampaikan bahwa benarlah pernyataan di atas, bahwa Ilmu Hadis
merupakan ilmu penting bagi para mufassir/ah, tapi itu juga penting bagi
mufassir non-formal. Ya, maksudku, tanpa disadari kita telah menjadi mufassir/mufassirah
bagi diri kita sendiri. Sebab, tak jarang bukan kita mentafsirkan sesuatu baik
itu ketika membaca Alquran atau sekedar membaca kejadian yang terjadi dalam hidup
ini? Terlebih, yang dianjurkan adalah mengetahui sekaligus mempelajari hadis
Nabi Saw. manusia dengan kesempurnaan akhlaknya, kemuliaan nasabnya dan keelokan
perangainya. Toh, tidak ada ruginya sama sekali, bukan untuk berkenalan
dengannya secara eksklusif dengan mempelajari beberapa hal di atas? Bahkan termaktub
pula dalam sebuah hadis yang sudah familiar, riwayat Hakim "Wahai
sekalian manusia, Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu sekalian
apa-apa yang jika kamu sekalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak
akan sesat selama-lamanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”.
Barakallahu fiikum semoga aku, kau dan semuanya mampu menjadi umatnya yang
dapat meneledani hadisnya.