Rabu, 23 Oktober 2019



Hati-hati Trend Nge-Riba-nget!
Oleh : Siti Fatimah Abdi


Memercayai hari akhir (baca; kiamat) adalah satu dari tanda keimanan seseorang. Belakang ini, tersebar banyak sekali berita-berita bahwa kita merupakan umat akhir zaman. Tidak sedikit pula ulama-ulama yang terus memperingatkan kepada para jamaahnya, untuk segera “mempersiapkan” diri dalam menyambut “tamu” akhir zaman. Tapi, adapula yang masih “ngeyel” dan tak ambil peduli dengan hal tersebut.
Entahlah, pendapat siapa yang benar, siapa yang salah. Namun, aku pribadi meyakini pendapat pertama. Ya, kita sudah berada di akhir zaman.
Allah SWT., memang tak pernah memberikan waktu yang pasti kabar atau berita tentang hari kiamat, secara detail. Tapi, jauh belasan ribu tahun yang lalu, melalui lisan Rasulullah SAW., tanda-tanda hari kiamat telah disebutkan dengan jelas, salah satunya adalah RIBA.

Menjelang datangnya hari kiamat akan merajalela riba” (H.R. Thabrani)
Tidak dapat dipungkiri, hampir semua transaksi jual-beli, utang-piutang, pasti “terselip” transaksi riba. Mulai dari bunga bank (yang sudah jelas ribanya) ehh sekarang menyamar menjadi alat yang “seakan-akan” membantu dan memudahkan, berupa kesehatan, transportasi, asuransi, sampai sekarang sudah ada yang namanya dompet digital. Ah, tentunya masih banyak study case yang familiar di kehidupan kita sekarang. Padahal, jelas di dalam Alquran bahwa antara jual beli dan riba itu berbeda (lih. Al-Baqarah: 275-276)
Alih-alih ingin memudahkan urusan lain—dengan sejumlah penawaran yang menggiurkan,—riba justru menjerat salah satu pihak. Why? Simak kisah yang saya kutip dari sebuah buku Berani Jadi Taubaters karya Mas Saptuari.
Kisah di Balik Warteg Joni Abadi yang Gratiskan Pembaca 2 Juz Alquran.
Bandung-Maret, 2015, awal keterpurukan Ricky Ricarvy Irawan. usaha oleh-oleh Bandung yang sudah dijalani sejak tahun 1998 dulu gulung tikar. Titik itulah yang membuat Ricky berhijrah dan memutuskan istiqomah di jalan Allah.
Dulu Ricky adaah pengusaha di segala celah. Sempat menjual burger, dengan 18 cabang, gerai isi ulang pulsa, jual es kelapa muda, pabrik pisang sale dan jualan keripik Maicij dan usaha utamanya sebagai penjual oleh-oleh Bandung.
"Yang jual oleh-oleh itu memang usaha keluarga. Awalnya di Leuwipanjang. Kemudian saya buka sendiri, sampai bisa buka di Cihampelas," beber Ricky kepada detik.com.

Modal usahanya yakni pinjaman ke bank dengan nilai yang cukup lumayan. Itulah penyebab usahanya terpuruk. Uang hasil usahanya tak sebanding dengan utang yang harus dibayarkan ke bank.
"Jadi utang  bank ketinggian. Omzet berapapun habis," ungkap Ricky yang mengaku masa lalunya nakal dan sekolah tingkat SMA pun tak lulus.
Ricky kemudian merasa telah salah memilih jalan hidup. Ia akhirnya memilih untuk bergabung dengan komunitas Pemuda Hijrah dan mengabdikan diri di Masjid Al-Lathief Jalan Suren, Kota Bandung.
"Saya lagi merasa ditenggelamkan oleh Allah. Sudah terlalu banyak dosa. Saya mengabdikan diri di Masjid," ungkapnya.
Sekian cuplikan kisahnya, semoga bisa menyadarkan kita bahwa riba hanya menggoda di awal, menyakitkan di akhir. Bahkan, tidak 

Selasa, 22 Oktober 2019


Apa Kabar Niat?
Oleh : Siti Fatimah Abdi
Niat itu seperti surat, salah nulis alamat, akan sampai ke salah tempat. Begitupula ketika beribadah maupun beramal, jika hanya diniatkan untuk mencari perhatian manusia—agar dianggap baik atau sholeh/ah—maka  itu pula-lah yang akan dapatkan.
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]
Memulai start beramal dengan niat yang salah hanya akan membuatmu sibuk mencari perhatian pada makhluk. Padahal, bukankah justru itu hanya akan membuatmu letih tak berujung?
Sekalipun yang kau lakukan adalah ‘kebaikan’, namun jika dimulai dan berada di jalur niat yang salah—tanpa ada revisi untuk diluruskan—maka hasilnya pun tidak akan benar. Jika belajar serta menuntut ilmu hanya karena ingin dipuji dan dianggap hebat, maka bukankah itu berarti kita hanya ingin mendapat kedudukan di-sisi makhluk dan mengabaikan balasan kebaikan di-sisi-Nya?
Ingat kembali, kamu hanya akan diantarkan sesuai dengan niat yang kamu tuliskan. Beda niat, beda capaian. Salah niat, salah hasil!
So, what is your intention?