Hati-hati Trend Nge-Riba-nget!
Oleh : Siti Fatimah Abdi
Memercayai
hari akhir (baca; kiamat) adalah satu dari tanda keimanan seseorang. Belakang
ini, tersebar banyak sekali berita-berita bahwa kita merupakan umat akhir
zaman. Tidak sedikit pula ulama-ulama yang terus memperingatkan kepada para
jamaahnya, untuk segera “mempersiapkan” diri dalam menyambut “tamu” akhir
zaman. Tapi, adapula yang masih “ngeyel” dan tak ambil peduli dengan hal
tersebut.
Entahlah,
pendapat siapa yang benar, siapa yang salah. Namun, aku pribadi meyakini
pendapat pertama. Ya, kita sudah berada di akhir zaman.
Allah
SWT., memang tak pernah memberikan waktu yang pasti kabar atau berita tentang
hari kiamat, secara detail. Tapi, jauh belasan ribu tahun yang lalu, melalui
lisan Rasulullah SAW., tanda-tanda hari kiamat telah disebutkan dengan jelas,
salah satunya adalah RIBA.
“Menjelang datangnya hari kiamat akan merajalela riba” (H.R. Thabrani)
“Menjelang datangnya hari kiamat akan merajalela riba” (H.R. Thabrani)
Tidak
dapat dipungkiri, hampir semua transaksi jual-beli, utang-piutang, pasti
“terselip” transaksi riba. Mulai dari bunga bank (yang sudah jelas ribanya) ehh
sekarang menyamar menjadi alat yang “seakan-akan” membantu dan memudahkan,
berupa kesehatan, transportasi, asuransi, sampai sekarang sudah ada yang
namanya dompet digital. Ah, tentunya masih banyak study case yang familiar di kehidupan kita sekarang. Padahal, jelas
di dalam Alquran bahwa antara jual beli dan riba itu berbeda (lih. Al-Baqarah: 275-276)
Alih-alih
ingin memudahkan urusan lain—dengan sejumlah penawaran yang menggiurkan,—riba
justru menjerat salah satu pihak. Why?
Simak kisah yang saya kutip dari sebuah buku
Berani Jadi Taubaters karya Mas Saptuari.
Kisah
di Balik Warteg Joni Abadi yang Gratiskan Pembaca 2 Juz Alquran.
Bandung-Maret, 2015, awal keterpurukan Ricky Ricarvy Irawan. usaha oleh-oleh Bandung yang sudah dijalani sejak tahun 1998 dulu gulung tikar. Titik itulah yang membuat Ricky berhijrah dan memutuskan istiqomah di jalan Allah.
Bandung-Maret, 2015, awal keterpurukan Ricky Ricarvy Irawan. usaha oleh-oleh Bandung yang sudah dijalani sejak tahun 1998 dulu gulung tikar. Titik itulah yang membuat Ricky berhijrah dan memutuskan istiqomah di jalan Allah.
Dulu
Ricky adaah pengusaha di segala celah. Sempat menjual burger, dengan 18 cabang,
gerai isi ulang pulsa, jual es kelapa muda, pabrik pisang sale dan jualan
keripik Maicij dan usaha utamanya sebagai penjual oleh-oleh Bandung.
"Yang
jual oleh-oleh itu memang usaha keluarga. Awalnya di Leuwipanjang. Kemudian
saya buka sendiri, sampai bisa buka di Cihampelas," beber Ricky kepada
detik.com.
Modal
usahanya yakni pinjaman ke bank dengan nilai yang cukup lumayan. Itulah
penyebab usahanya terpuruk. Uang hasil usahanya tak sebanding dengan utang yang
harus dibayarkan ke bank.
"Jadi
utang bank ketinggian. Omzet berapapun
habis," ungkap Ricky yang mengaku masa lalunya nakal dan sekolah tingkat
SMA pun tak lulus.
Ricky
kemudian merasa telah salah memilih jalan hidup. Ia akhirnya memilih untuk
bergabung dengan komunitas Pemuda Hijrah dan mengabdikan diri di Masjid Al-Lathief
Jalan Suren, Kota Bandung.
"Saya
lagi merasa ditenggelamkan oleh Allah. Sudah terlalu banyak dosa. Saya mengabdikan
diri di Masjid," ungkapnya.
Sekian cuplikan
kisahnya, semoga bisa menyadarkan kita bahwa riba hanya menggoda di awal,
menyakitkan di akhir. Bahkan, tidak

