Rabu, 02 Maret 2016

Reminder about My Prophet Rasulullah SAW


Rabu, 22 Pebruari 2016
Just Reminder for Me and whoever reads it
Aku terus mengubah posisi tidurku, ke arah kanan-kiri, menghadap depan, sampai berposisi seperti bayi yang seperti ingin merangkak. Hufh, entah mengapa kantukku seakan menyesat di suatu tempat. Padahal do’a tidur sudah kupanjatkan setengah jam yang lalu, pun beragam ‘ritual’ jelang tidur telah kulakukan. Parahnya, hingga pukul 00.00 dini hari, mataku pun tak kunjung terkatup. Mungkin ia belum lelah, sebab siang tadi aku memang tidur lumayan lama. Pikirku memastikan. Tapi, hingga jam digital di handphone-ku menunjukkan pukul 00.28 mataku benar-benar masih terasa segar. Hmm, sepertinya harus ada yang kulakukan untuk membuatnya terlelah, setidaknya membaca 2 atau 3 halaman dari suatu bukulah. Ideku yang membatin. Ya, ritual pamungkas yang kulakukan jika kantuk tak kunjung datang menghipnotisku untuk tertidur.
Finally, aku mulai melirik meja belajarku, dan menarik kursi yang terletak di depannya untuk kududuki. Awalnya aku hanya melihat jadwal siaran radio baru untuk bulan Maret saja, namun setelahnya, tatapanku tercuri oleh sebuah benda yang baru saja kurapihkan sebelum aku memulai belajar tadi. Ya, benda tersebut berbaris rapih berdampingan dengan “teman-temannya.” Benda bewarna merah, bertuliskan “Ilmu Hadis” pada cover yang terpampang di depannya seperti berteriak manja meminta untuk dibaca.
Baiklah, tanganku mulai meraih buku karangan Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag. lalu mulai menjelajahi lembar demi lembar yang terdapat di dalamnya hingga tatapanku terhenti pada lembaran ke-56.
“Salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi bagi mereka yang ingin menafirkan Alquran ialah harus tahu dan mengerti hadis dan ilmu hadis serta sejarah perjalanan kehidupan Nabi Saw.”
Wah, rasanya seluruh jempolku ingin mengacungkan dirinya simbolik setuju atas statement di atas. Ya, aku memang mengambil jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir, tapi aku tidak sepehunya yakin jika aku mampu menjadi seorang mufassirah—sebutan dalam bahasa Arab bagi penafsir hadis perempuan. Sebab, sepertinya banyak sekali syarat yang mesti dipenuhi. Bukannya pesimis, namun kembali lagi pada niat awalku ketika memilih jurusan eksklusif ini. Alquran is key of Te World. Aku percaya bahwa dengan seseorang mempelajari ilmu Alquran itu sama saja seseorang tersebut telah mempelajari beragam ilmu. Bukan sombong, namun Alquran memanglah mukjizat Rasulullah Saw hingga akhir zaman, yang tak dapat diragukan lagi kebenarannya.
Ehh, tapi kali ini tanganku menari manis di atas keyboard laptop bukan untuk membahas pasal Alquran Key of The World, itu ada pembahasan khususnya. Hehe… aku hanya ingin menyampaikan bahwa benarlah pernyataan di atas, bahwa Ilmu Hadis merupakan ilmu penting bagi para mufassir/ah, tapi itu juga penting bagi mufassir non-formal. Ya, maksudku, tanpa disadari kita telah menjadi mufassir/mufassirah bagi diri kita sendiri. Sebab, tak jarang bukan kita mentafsirkan sesuatu baik itu ketika membaca Alquran atau sekedar membaca kejadian yang terjadi dalam hidup ini? Terlebih, yang dianjurkan adalah mengetahui sekaligus mempelajari hadis Nabi Saw. manusia dengan kesempurnaan akhlaknya, kemuliaan nasabnya dan keelokan perangainya. Toh, tidak ada ruginya sama sekali, bukan untuk berkenalan dengannya secara eksklusif dengan mempelajari beberapa hal di atas? Bahkan termaktub pula dalam sebuah hadis yang sudah familiar, riwayat Hakim "Wahai sekalian manusia, Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu sekalian apa-apa yang jika kamu sekalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. Barakallahu fiikum semoga aku, kau dan semuanya mampu menjadi umatnya yang dapat meneledani hadisnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar